Perbedaan Pariwisata Bima dengan Daerah Lain


Pariwisata Bima memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan sejumlah daerah lain di Indonesia. Khususnya sejumlah spot wisata di Kabupaten Bima menawarkan pemandangan alam dan kultur yang alami.

Sejumlah spot wisata seperti Pulau Ular di Kecamatan Wera Kabupaten Bima merupakan satu-satunya di dunia dihuni ular jinak. Nama tempatnya pun sudah terdengar hingga wisatawan mancanegara, sehingga tak heran bule yang Bima berkunjung ke pulau mungil ini. “Pariwisata di Bima memang belum tersedia akomodasi yang bagus seperti daerah lain misalnya Bali. Tapi pesona wisata di Bima terletak pada keindahan alamnya yang masih alami. Kita memiliki banyak spot menarik untuk dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara,” ujar Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Bima, Chandra Kusuma Ap kepada Berita11.com, kemarin.

Chandra menyebutkan, potensi lain yang dimiliki Kabupaten Bima yaitu, wisata bahari. Misalnya keindahan terumbu karang di Gili Banta, pantai Papa dan Pulau Kelapa menyedot perhatian wisatawan untuk melakukan scuba diving dan snorkeling. Bahkan keindahan Pulau Kelapa sempat memunculkan polemik bahwa gili itu dibeli oleh bule, namun beruntung mampu dipertahankan Pemerintah Kabupaten Bima.

“Pariwisata kita banyak item, ada wisata alam, ada wisata sejarah, wisata budaya, kesenian. Untuk wisata alam, yang menonjol seperti Pulau Ular, gili Banta dan beberapa pulau lain yang menarik.  Kita juga berupaya menumbuhkan kembali wisata-wisata terkait budaya,” ujar Chandra.

Khusus paket wisata budaya dan sejarah, Pemerintah Kabupaten Bima menawarkan objek wisata Uma Lengge di Kecamatan Wawo beserta kesenian Ntumbu (adu kuat kepala). Selain itu, di Kecamatan Lambitu memiliki budaya khas yang menarik untuk dikunjungi. Untuk memanjakan para wisatawan, juga ditawarkan transportasi tradisional benhur yang mirip alat transportasi cidomo di Pulau Lombok.

Untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan, Pemkab Bima bersinergi dengan sejumlah stake holder atau pemerintah daerah lain dengan memaketkan tujuan kunjungan. Kini kunjungan ke sejumlah spot di Bima satu paket dengan Pulau Lombok, Pulau Moyo, gunung Tambora, Pulau Sangiang, gili Banta, Pulau Kelapa, dan Pulau Komodo. Pemerintah daerah juga terus berupaya meningkatkan sarana dan prasarana penunjang melalui penambahan anggaran pariwisata. “Pemerintah selalu berupaya meningkatkan penambahan alokasi untuk pariwisata, tetap kita upayakan, tetap berimbang, karena membangun tidak hanya sektor pariwisata tapi sektor-sektor lain juga mendukung sektor pariwisata itu. Itu yang kita dorong,” kata Chandra.

Beberapa bulan terakhir, cukup banyak festival yang digagas masyarakat atau kelompok pemuda di Bima seperti festival gunung Sangiang di Kecamatan Wera, festival budaya dan kegiatan lain. Saat ini, pemerintah berupaya memperbaiki citra Bima yang terlanjur negatif, kadang dikaitkan aktivitas terorisme dan persoalan perang antar kampung.

“Bima ini lebih sering dikatikan hal-hal yang nggak bagus seperti isu teroris dan perang antar kampung. Kita tdiak akan maju, sebagus dan setinggi apapun daerah kita, budaya kita, itu tidak akan menarik wisatawan. Sedikit saja kejadian, negara lain langsung mengeluarkan travel warning. Itu yang sedang kita benahi dan perlu bantuan masyarakat,” katanya.

Sumber: berita11

Kuliner NTB

Instagram